Jumat, 29 April 2011

Pengaruh Pendidikan Agama Kristen terhadap Pertumbuhan Iman Anak

     Dari zaman ke zaman, setiap orang dalam kehidupannya selalu ingin memiliki kepribadian yang baik, sopan, bertatakrama, dihargai dan ingin bahagia dan ingin meraih kesuksesan hidup. Dalam merealisasikan keinginannya tersebut banyakl usaha yang ditempuh  orang.
Ada yang berusaha melalui pergaulan hidup sehari-hari, ada yang melalui pendidikan formal dan non formal. Tetapi jarang sekali yang dapat memberi  hasil seperti yang didambakan setiap orang. Kegagalan ini sering terjadi  karena kenyataan yang ada adalah tempat-tempat yang diharapkan dapat memenuhi keinginan setiap orang tersebut lebih  sering mengutamakan kuantitas pengajaran daripada kualitas. Sebagian besar pendidik hanya sekadar memberi teori tanpa ada usaha untuk mengarahkan dan mengkondisikan pelajarnya untuk membentuk perilaku kehidupannya sesuai dengan yang diajarkan kepadanya. Pendidik berasumsi bahwa dengan menguasai teori, maka dengan sendirinya mampu menerapkannya dalam hidup sehari-hari.
     Asumsi guru yang demikian, tidak semua menjadi kenyataan. Sebab banyak orang, terutama anak-anak, sulit memiliki dan menentukan bentuk perbuatan  konkrit dalam merealisasikan pengajaran pendidiknya yang berupa teoritis.
     Dalam lembaga pendidikan, sebenarnya ada beberapa mata pelajaran yang memungkinkan setiap orang dapat membangun dan membentuk  perilakunya menjadi perilaku yang sopan, bertatakrama, memiliki nilai-nilai hidup yang berkualitas tinggi, dihargai dan diterima orang lain di sekitarnya. Mata pelajaran tersebut seperti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, pendidikan Agama, Ilmu Pengetahuan Sosial. Bahkan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi yang baru diberlakukan sekarang, ada satu mata pelajaran khusus untuk membentuk kepribadian siswa, yaitu mata pelajaran Budi Pekerti. Mata pelajaran ini lebih  mengarah pada ajaran moral dan perilaku dalam hidup bermasyarakat di dalam kehidupan sehari-hari.
     Di dalam lembaga pendidikan formal mata pelajaran pelajaran Pendidikan Agama Kristen merupakan suatu bidang yang dapat diandalkan untuk membentuk dan membangun pertumbuhan iman bertaqwa kepada Tuhan. Hal ini dapat diketui dari tujuan Pendidikan Agama Kristen seperti yang dikemukakan oleh Calvin dengan mengatakan :
“Tujuan Pendidikan Agama Kristen adalah mendidik semua putra-putri Ibu (gereja) agar mereka dilibatkan dalam penelaahan Alkitab secara cerdas sebagaimana dibimbing oleh Roh Kusus, - diajarkan mengambil bagian dalam kebaktian serta mencari keesaan gereja, - diperlengkapi memilih cara-cara mengejewantahkan pengabdian diri kepada Allah Bapa Yesus Kristus dalam gelanggang pekerjaan sehari-hari serta hidup bertanggung jawab di bawah kedaulatan Allah demi kemuliaan-Nya sebagai lambang ucapan syukur mereka yang dipilih dalam Yesus Kristus”
Selain itu Mata pelajaran ini dapat diandalkan karena dalam Alkitab dikatakan bahwa “Permulaan hikmah adalah takut akan Tuhan, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik” (Mzm 111 : 10). Di dalam Pendidikan Agama Kristen sendiri, setiap siswa diarahkan untuk mengenal Tuhan dan menerimaNya sebagai Tuhannya serta taat kepadanya. Dan untuk dapat taat kepada Tuhan, maka setiap orang harus mengenal perintahnya agar dapat dilakukan. Juga harus memahami larangannya agar dapat dijauhi. Kedua hal ini diketahui dari Firman Tuhan yang tertuang di dalam Alkitab.
     Dari pandangan-pandangan di atas diketahui bahwa pengetahuan dan kepandaian yang mendatangkan kepribadian yang luhur adalah pengetahuan dan kepandaian yang berasal dari Tuhan-Nya. Untuk itu, dalam mengajarkan Firman Tuhan ini diperlukan pengajar atau guru yang  sadar betul akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik iman. Sebab guru Pendidikan Agama Kristen mempunyai tanggung jawab membawa muridnya kepada iman yang kokoh dan berkembang menjaga kemurnian pengajar Tuhan dan memimpin murid kepada kebenaran Allah, Ia adalah  saksi Kristus, ia bukan hanya informatory tetapi juga sekalipun motivator, komunikator dan konselor bagi muridnya.
     Tetapi fakta yang banyak terjadi sekarang adalah banyak guru agama Kristen kurang memperhatikan dan melaksanakan tugas  dan tanggung jawabnya dengan benar. Banyak guru agama Kristen yang hanya mengajarkan Pendidikan Agama Kristensecara teoritis tanpa peduli apakah siswanya mampu dan mau menerapkannya dalam kehidupan seharu-hari. Penerapan inilah yang menunjukkan seseorang sudah berkepribadian yang luhur dan saleh atau masih belum. Calvin dalam pandangannya di atas  menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Kristen itu selain dipahami secara teoritis juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari gaik dalam bentuk ibadah bersama maupun dalam bentuk kegiatan dalam hidup sehari-hari di dalam masyarakat.
Keadaan pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen yang demikian justru kurang mampu membantu setiap orang berkeinginan untuk mempunyai kepribadian yang luhur, saleh dan beriman yang kokoh kepada Tuhan. Akibatnya banyak yang dilanda kekecewaan dan ketidakmampuan untuk merealisasikan imannya dalam kehidupan bermasyarakat untuk menunjukkan ketaatan dan keimanannya kepada Tuhan.
     Kenyataan ini telah berlangsung di banyak sekolah, baik yang berstatus negeri maupun swasta umum dan swasta Kristen. Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen di sekolah sebagai pembentukan perkembangan iman serta beriman kepada Tuhan, semakin mendalam bila guru agama Kristen di sekolah tersebut hanya  berstatus Guru Agama Tidak Tetap (honorer). Semakin banyak tantangan yang dihadapi, baik dari segi waktu, fasilitas dan pihak-pihak dari yang beragama non Kristen yang lebih mendominasi sekolah tersebut.
    Dengan memperhatikan tujuan Pendidikan Agama Kristen di atas maka pencapaian tujuan PAK tersebut semakin sulit. Perlu disadari bahwa pertumbuhan dan perkembangan iman nakak baru dapat tercapai  bila tujuan Pendidikan Agama Kristen seperti yang dirumuskan oleh Calvin di atas dapat tercapai. 

1 komentar:

  1. saya sangat senang dengan adanya materi ini.
    trimakasih yach buat yang sudah merangkumnya.GBU

    BalasHapus